Sesuai dengan kronologi kehidupan, manusia sesungguhnya sudah melewati beberapa masa dari zaman Pra-Modern hingga ke Post-Modern. Dengan begitu kebutuhan mereka pun berkembang seiring dengan kedudukan yang turut andil di dalamnya.
Zaman Pra-Modern
![]() |
| Pala dei Tre Arcangeli by Marco D'Oggiono (sumber: wikipedia.org) |
Di zaman tersebut kekuasaan tertinggi berada di tangan agama dan kerjaan. Dan orang-orang yang paling dihormati pun hanya berpusar pada pemuka agama dan bangsawan. Sedangkan rakyat jelata, mereka harus berkerja dan patuh pada perintah-perintah agama dan kerajaan. Hal-hal tersebut terlihat kontras dari karya-karya yang dihasilkan oleh para senimannya. Mulai dari patung hingga lukisan, nyaris semuanya bertemakan sesuatu yang berbau religi.
Para rakyat memproduksi barang-barang kebutuhan mereka secara kecil-kecilan dalam ruang lingkup rumahan. Pegawai yang terlibat adalah para anggota keluarga rumah sendiri. Dengan mengandalkan peralatan yang sederhana, mereka memberlakukan praktik barter antar-rumah.
Zaman Modern
Pergantian era dari Pra-Modern menjadi Modern diawali oleh sebuah pemberontakan lantaran rakyat merasa bosan dan terjajah dengan peraturan gereja. Sedikit demi sedikit manusia berani berpikir sehingga muncul sebuah jargon: “aku berpikir, maka aku ada”. Dan dengan begitu, kekuasaan tertinggi pun berangsur begeser menjadi milik manusia.
![]() |
| Revolusi Industri (sumber: wikipedia.org) |
Para rakyat desa ikut tergiur dengan segala kecanggihan yang ditawarkan di kota, mereka pun mengadakan urbanisasi besar-besaran. Tapi, dengan perpindahan tersebut, maka muncul sebuah kesenjangan sosial antara kaum kapitalis dengan rakyat jelata. Pasalnya, para buruh hanya dibayar dengan upah rendah. Dan pabrik-pabrik pun bukan hanya memproduksi barang, tapi mereka menghasilkan limbah, mulai dari polusi udara dan limbah lain, yang mengotori lingkungan.
Kendati muncul sebuah gagasan revolusi industri, tapi barang-barang yang dihasilkan dari manufaktur adalah sebuah produk sejenis. Sistem diferensiasi hanya berlaku pada nama dan merk produk, sehingga kerap kali produk-produk lain menjadi tidak laku dan dibuang begitu saja.
Zaman Post-Modern
![]() |
Di era post-modern manusia dapat berekspresi, salah satunya
melalui media sosial (sumber: pinterest.com)
|
Tapi dengan adanya paham tersebut, manusia di era Post-Modern punya kecenderungan untuk memberikan identitas diri. Mereka senang sekali berkelompok dan mencari orang-orang yang punya identitas serupa, berkerumun, dan membuat komunitas.
Karakteristik utama dari manusia di era Post-Modern menyangkut pada jiwa berekspresi yang besar. Kebenaran yang dulunya hanya dipegang oleh satu pihak pun mulai luntur (kebenaran adalah relatif). Dan dari sisi produk yang beredar pun, punya kecenderungan yang sama, muncul persaingan antar-produk dengan identitas yang berbeda. Masyarakat perlu alasan dari segi inovasi, perbedaan jenis, dan sebuah citra.
Dengan keberagaman tersebut, manusia memang tak lagi dipusingkan dengan tampilan yang bosan dari sebuah produk, namun muncul sebuah kendala baru, yaitu pola hidup konsumerisme. Dari sebuah kebutuhan, manusia mulai meninginkan produk bukan berdasarkan kebutuhan mendasar.
Ilmu yang Didapat
Memperlajari bab ini saya menjadi tahu tentang sesuatu yang terjadi di masa lampau, kendati sering melihat latar-latar yang terlibat pada era Pra-Modern pada film atau pun cerita masa kini, tetapi akhirnya saya tahu sebab-akibat dari kedudukan yang berlaku pada sebuah era. Begitu juga dengan adanya revolusi industri. Setiap hal yang terjadi di dunia menjadi saling berkaitan dan berakibat untuk menciptakan sesuatu yang baru.


.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar