Bukan hanya satu orang, tapi masyarakat di era sekarang kebanyakan berbondong-bondong membeli perangkat elektronik dengan sebuah logo apel di belakangnya. Mereka pikir, pakai Apple, saya bakal menjadi kreatif. Ideologi seperti itu tentu tidaklah salah. Tapi sebenarnya apa yang membuat mereka berpikir seperti itu?
Kalau dipikir dari segi internal mesin iPhone atau pun laptop Mac, terkadang prosesor lain malah dirasa lebih unggul. Untuk ukuran tahan banting? Tidak juga. Tapi, semua pemikiran itu datang bukan semata-mata tanpa bukti.
![]() |
| Komputer Macintosh Pertama (sumber: http://static1.squarespace.com/) |
Jobs tidak hanya beride, ia membuktikan. Komputer Apple pertama yang berbasis GUI (Graphic User Interface) muncul di tahun 1984, dengan teve komersial yang sangat melegenda.
Kalau dulu komputer-komputer mengenal DOS, Apple berani mempromosikan brand mereka (Macintosh) lewat tampilan grafis yang baik, jauh melebihi teks monospace yang disajikan DOS.
Apple kini dicap sebagai sebuah merk yang out of the box. Lewat tampilan grafis yang baik, Jobs sebagai penyuka kaligrafi, juga menuangkan idenya lewat program tipografi di Mac, yang kini berkembang menjadi sebuah program grafis unggulan, bernama Adobe. Tapi program-program keren ciptaan Steve Jobs pun didukung oleh kemampuan desain dari Jonathan Ive.
Jonathan Ive adalah otak di belakang desain-desain gila Apple. Kalau dulu produk elektronik yang beredar punya tampilan dengan warna yang itu-itu saja. Merah, biru, hitam, dengan warna-warna solid yang membosankan. Lewat idenya, Ive mengubah paradigma masyarakat dengan desain elektronik yang bervariasi. Sehingga iPhone atau pun produk Apple lainnya punya satu kata sifat yang menempel di kepala masayarakat: unik.
![]() |
| Varian warna iPhone 5c (sumber: http://media.engadget.com/) |
Nah, dari pemikiran Jobs yang awalnya dianggap gila, terbukti sudah kalau Steve Jobs tidak hanya membual. Ia membuktikan idenya, membuat inovasi dan menyebarkannya di tengah masyarakat. Sehingga lewat desainnya yang beda dari produk elektronik lainnya, masyarakat pun ikut merasakan ESP (emotional selling proposition) yang disisipkan Jobs lewat produknya, yaitu menjadi unik dan kreatif.
![]() |
| Webiste resmi dan Print Ad yang dikeluarkan Apple |
Media massa yang digunakan Apple awalnya mirip dengan media massa yang digunakan produk lain pada umumnya. Dimulai dari sebuah teve komersial terkenal. Semua orang, khususnya warga Amerika, menonton. Tapi, dari sebuah ads terkenal, dan testimoni pemakainya. Kini, Apple tak lagi pusing jika ingin mengeluarkan inovasi terbaru dari mulai produk Mac, iPhone, iPad, atau pun lainnya. Para avid fans Apple sudah bertebaran di dunia, tidak hanya di ruang lingkup asalnya (Amerika), seluruh dunia tahu, dan satu dunia setuju menjadikan Apple menjadi ideologi mereka sebagai langkah untuk menjadi orang yang kreatif. Kini, Apple tidak perlu pasang teve komersial besar-besaran, atau pun print ads yang memukau, Apple hanya perlu satu website resmi yang memajang isu inovasi terbaru mereka di masa akan datang, dan lewat media tersebut, para avid fans Apple akan ricuh dan menyebarkan berita tersebut dari mulut ke mulut.
![]() |
| Penggunaan Apple di Era Sekarang (sumber: http://static3.businessinsider.com/) |
Dari sebuah produk Apple dan hegemoninya tentang menjadi kreatif, ada tiga pihak yang diuntungkan. Pertama, dari pihak Apple, yang mampu memukau jutaan fans, tidak perlu khawatir tentang penjualan produknya yang sudah pasti diminati dari dicari orang. Kedua, pihak reseller produk tersebut. Ketiga, adalah pengguna produk Apple. Dengan menggunakan produk tersebut, mereka menjadi punya kepercayaan diri. Dan mereka pun dapat menikmati sebuah gadget yang penuh inovasi di tangan mereka.
Sumber:
www.howtogeek.com
wikipedia.org
www.kidnesia.com






OK
BalasHapus