Latar Belakang dan Asal Mula K-Pop
![]() |
| Cho Yong Phil (sumber: Azoners.com) |
K-Pop sebagai akronim dari Korean pop memang sedang banyak disukai oleh kebanyakan orang. Terutama kalangan muda. Mulai dari dentam-dentam elektronik, aransemen keren, dan gerakan tari yang atraktif. Tak heran jika terdengar ramah ketika menjamah telinga. Kalau sekarang K-Pop terdengar banyak mengombinasikan banyak genre musik, mulai dari hip hop, rock, pop, R&B dan masih banyak lagi. Tapi, pada mulanya semua hal itu berawal dari musik kuno yang biasa disebut trot yang dipopulerkan oleh para penyanyi di Korea dulu.
Sebagai pionir K-Pop, bisa dibilang, Cho Yong Phil lah yang berjasa terhadap hal tersebut. Cho Yong Phil yang sampai saat ini sangat dipuja di Negeri Ginseng sana, memulai K-Pop dengan mencampur aransemen lagu Korea kuno dengan genre rock.
| Seo Taiji & Boys (sumber: widisiera.blogspot.com) |
Lantas, setelah generasi tersebut, di awal tahun 1992, banyak boyband bermunculan. Sebelum Super Junior, Big Bang, EXO, dan banyak lagi boyband yang tak lagi terhitung jumlahnya. Seo Taiji & Boys memulai karier mereka di tahun 1992 sebagai salah satu boyband pertama yang disambut hangat oleh masyarakat Korea Selatan.
Dilanjutkan oleh generasi H.O.T, g.o.d, Shinhwa. Dan di saat itulah virus K-Pop tersebut mulai menyebar, tidak hanya di Korea, tapi di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia.
![]() |
| Big Bang dengan gaya hip-hop (sumber: koreanindo.wordpress.com) |
Dari sekian banyak boyband yang ada, Korea Selatan selalu punya siasat untuk mengundang para fans agar keranjingan dengan inovasi-inovasi mereka, yaitu dengan menancapkan brand pada masing-masing boyband. Dari aransemen lagu, kemampuan bernyanyi dan menari para personilnya.boyband Big Bang, yang pertama kali debut di tahun 2006 sengaja dipersiapkan untuk mengadopsi sebuah kultur hip-hop dari mulai gaya bernyanyi yang banyak menyisipkan rap dan beatboxing. Dari gaya fesyen pun, Big Bang mempertontonkan pernak-pernik perihasan di tubuh mereka yang ukuran besar dan mencolok. Tak terkecuali dengan atribut fesyen.
Selain, mempraktikkan fenomena yang umum pada era Post Modern, sebuah boyband pun tak ayal menggunakan pola kanibalisme, yang mana, dari sebuah boyband dari agensi yang sama, muncul dengan konsep dan brand yang lebih kekinian untuk menyaingi boyband yang lama. Dan begitulah seterusnya. Sehingga para fans tak pernah puas, pun antar-boyband tak pernah selesai untuk selalu bersaing, demi merebut perhatian para pemirsa.
Terlepas dari persaingan antar-brand dari satu boyband dan boyband lainnya, pun banyak fenomena budaya lainnya yang dapat disimak dan terjadi di kalang para fans:
Hegemoni yang Merujuk ke Gaya Hidup
Demam K-Pop digolongkan sebagai sebuah hegemoni. Para fans yang memuja idolanya tidak didorong paksaan atau ancaman. Mereka dengan sukarela melakukan segala hal untuk dapat merasa dekat dengan sang idol dan menjadikan idol tersebut sebagai sebuah ideologi yang membentuk gaya hidup mereka. Sebagai salah satunya, yaitu kegiatan fangirling, alias mencari informasi sebanyak-banyak tentang si artis idola. Satu hari saja tidak update berita terbaru di dunia maya, para fans seolah kehilangan semangat untuk beraktivitas.
Fanbase sebagai Sub-culture
Jika mengaku seorang fans K-Pop, seseorang tentunya harus memilih fanbase yang akan menjadi tempat berkumpul. Fanbase bisa disebut sebagai sebuah sub-culture baru. Para fans akan berkumpul, berbagi informasi terkini mengenai boyband pujaan mereka, dan tak jarang juga berkreasi.
| Para fans SHINee dengan lightstick berwarna lightstick pearlscent skyblue sebagai identitas seorang ShaWol (sumber: soompi.com) |
Fanbase bisa dibilang salah satu sub-culture yang punya dampak positif karena selain berbagi informasi dan menikmati kesenangan dalam fangirling. Dalam fanbase pun para fans dituntut aktif untuk berkreasi. Seperti contohnya fanbase SHINee, yang menyebut diri mereka sebagai SHINee World atau disingkat sebagai ShaWol. Dalam fanbase tersebut kerap dibangun organisasi untuk mengurus sebuah forum online. Mulai dari ketua, bendahara, desainer grafis, dan masih banyak lagi. Forum tersebut didandani dengan cantik sehingga memungkinkan para ShaWol di Indonesia dan seluruh dunia berinteraksi sama lain, mengenai event-event yang berkaitan dengan para idol, dan informasi terkini.
Lantas, selain menyalurkan minat pada boyband yang sama, para fans pun dapat menyumbangkan bakat, menyalurkan hobi, dan membantu satu sama lain agar dapat berkreasi untuk idol mereka. Seperti menulis fanfiksi, membuat sub untuk video-video di mana para idol menjadi bintang tamu atau pun bintang acara pada sebuah acara teve di Korea Selatan sana.
Pembuatan fanbase merupakan salah satu contoh pembentukan subculture yang harmonis.
Pegeseran Stereotype Gender dalam Benda
![]() |
| Contoh iklan cetak The Faceshop |
Ada beberapa pembagian stereotype yang terjadi di masyarakat, kalau peralatan kecantikan hanya diperuntukan untuk perempuan, lantas laki-laki tidak memiliki ikon pantutan untuk merawat tubuh.
Hal semacam itu, percaya tak percaya, telah bergeser seiring dengan masuknya budaya Korea di tengah masyarakat Indonesia, khususnya K-Pop. Kalau diperhatikan dari lagam lenggok dan penampilan para idol K-Pop yang terlihat sangat menjaga penampilan dan fesyen. Hal tersebut bukan saja mendorong para perempuan untuk tampil eksis sebagai fans, tapi kaum pria pun mendapatkan dampak dari kemunculan produk perawatan tubuh, khususnya perawatan wajah.
Contohnya, seperti berdirinya The Faceshop di Indonesia. Figur yang digunakan The Faceshop sebagai brand ambassador bukan menggunakan para perempuan seksi, berwajah mulus, dengan pesona kecantikan yang luar biasa. Alih-alih, menggunakan para idol K-Pop yang bergender laki-laki, contohnya: Kim Hyun Joong, Won Bin, Kim Soo Hyun, yang secara rutin terlihat di etalase depan gerai The Faceshop.
Needs vs Wants
Dari budaya yang dapat ditiru, dinikmati, dan memberikan gagasan cemerlang bagi Bangsa Indonesia, rupanya K-Pop sendiri punya dampak yang kurang baik, terutama untuk para fans-nya.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, sebagai fans yang tergabung dalam sebuah fanbase tentunya saling berkompetisi. Dari yang semulanya iseng mengikuti, lantaran dipengaruhi lingkungan sosial, lama-kelamaan seseorang pun turut menjadi avid fans, fans yang gelap mata dan memprioritaskan kebutuhan mereka menjadi nomor dua, lantaran ingin diakui sebagai fans paling setia.
Dari banyaknya boyband yang bermunculan belakangan ini, dapat ditilik kalau dalam satu tahun, satu boyband pasti akan melakukan sesuatu yang dinamakan comeback stage, yaitu ritual kala sebuah boyband kembali meluncurkan album setelah lama menggodok materi mereka di dapur rekaman. Dan dari banyak fangirl yang ada, seseorang jarang sekali menjadi fangirl setia yang tidak menyimpang ke idol lain, akibatnya satu fans perlu dua pembuktian yang di dua fanbase yang berbeda.
Untuk menjadi eksis yaitu untuk pamer; mengenai info paling teraktual, termasuk mempunyai album terbaru sang idol dalam label yang orisinil.
![]() |
| Contoh koleksi album KARA oleh salah seorang fangirl (sumber: eshaeunhae.wordpress.com) |
Mereka rela merogoh saku untuk uang yang realtif mahal jika dibandingkan dengan album penyanyi Barat maupun lokal. Terlebih K-Pop terkenal dengan desain album yang menarik dan tentunya perlu biaya besar, tak ketinggalan biaya ongkos kirim yang diimpor langsung dari Korea Selatan.
Untuk konser pun, para fans rela membayar tiket tanpa memedulikan harga yang fantastis. Semenjak dilanda demam K-Pop, para promotor lokal tidak tanggung-tanggung mematok harga. Kendati demikian, dalam konser Big Bang tiga tahun lalu, contohnya. Tiket yang dijual langsung digondol habis dalam hitungan jam.
Namun, pengorbanan para fans tidak berhenti sampai sana. Selain menonton konser, para idol K-Pop punya booth khusus yang diperuntukan bagi para fans agar dapat memberikan hadiah bagi idol pujaan mereka. Contohnya pada konser sebuah boyband yang bernama Infinite, yang digelar dua tahun lalu. Para penonton rela mengantre berjam-jam di bawah terik sinar matahari untuk memberikan buah tangan kepada para personil kesukaan mereka. Bukan saja harga tiket konser yang mencekik, tapi harga buah tangan pun tak bisa dibilang murah, terlebih jika jumlah personil Infinite yang berjumlah tujuh orang.
Perilaku Membeli
Terkadang heran dengan keputusan para fans yang kerap kali gelap mata ketika melihat hal-hal yang berbau Korea dan yang memiliki relasi dengan para idol mereka. Tetapi, hal semacam itu tentu saja didorong oleh beberapa faktor.
Salah satunya faktor sosial. Dari mulanya mereka memutuskan untuk bergabung dengan fanbase, secara sosial, dengan dikelilingi para fans lainnya, muncul sebuah motivasi untuk membeli. Tidak memiliki penting atau tidaknya. Mahal atau murah. Dari sebuah dorongan sosial, muncul dorongan psikologis, di mana seorang fans merasa diakui dan gengsi. Dengan membeli album orisinil dari idol mereka, mereka pun akan merasa diakui oleh para fans lainnya.
Kesimpulan
Dari keseluruhan fenomena yang terjadi, demam K-Pop punya banyak segi kultur yang dapat dipelajari dan dipahami. Dari budaya Korea sendiri ke dalam sebuah desain, Korea Selatan punya ide-ide brilian, terutama dalam mem-branding boyband-boyband mereka.





Ini sangat bagus pembahasannya. :)
BalasHapus